Assessment Supplier

Harga material melambung tinggi ? cost produksi menjadi semakin mahal sedangkan customer tidak berkeinginan menaikkan harga meskipun bagian marketing sudah melobi customer dengan berbagai macam cara….pusing…..(beginilah nasib anak material control alias MCL), sepertinya sudah saatnya bagi perusahaan yang mengalami hal seperti ini untuk meninjau suupler lain yang harganya lebih kompetitif….yang tentu saja dengan kualitas yang tidak kalah dengan supplier tempat biasa berlangganan…hehehehehhe

Bagaimana sech kita bisa menilai bahwa supplier baru bisa dinyatakan layak untuk menjadi supplier kita? Untuk ini semua kita perlu melakukan suatu hal yang dinamakan Assessment Supplier dimana dari data assessment ini kita bisa menilai kelayakan suatu perusahaan menjadi suplier kita.Proses penilaan pun berbeda-beda tergantung dari typical perusahaan kita sendiri dan customer spesific requirement dari customer kita, namun dibalik itu semua pada dasarnya assessment supplier dilihat dari 2 faktor yang paling mendasar, yaitu Kualitas material dan ketepatan delivery dari material yang akan dikirim oleh supplier baru kita.

Adapun Proses pelaksanaan Assessment Supplier adalah sebagai berikut :
a. Bagian MCL menghubungi calon supplier bahwa perusahaan kita berminat untuk menjadikan mereka supplier kita, bagian MCL lalu memberikan informasi bahwa bagian MCL dan QA akan melakukan assessment terlebih dahulu diperusahaan mereka.

b. Setelah waktu pelaksanaan telah disepakati oleh kedua belah pihak, bagian MCL memberikan Informasi kepada bagian QA untuk mempersiapkan data assessment untuk persiapan di hari H tersebut. Umumnya data assessment (acuan berdasarkan ISO 9001-2000) berupa :
1. QA/QC Organization
Point ini membahas mengenai strukturisasi QA sebagai departement yang independent diperusahaan supplier beserta cakupan Quality System didalamnya.
2. Quality Control Inspection
Point ini membahas metode inspeksi di tempat calon supplier, baik dari metode inspeksi material mereka (incoming), pada saat proses (In-Line) maupun pada saat Pre-delivery (Out-Going)
3. Production
Point ini membahas mengenai pelaksanaan proses produksi, umumnya didalamnya tercakup penanganan mekanisme kontrol proses, Instruksi kerja, Loading capacity,penanganan produk baru dll.
4. Abnormal Defect Handling Procedure
Point ini membahas penanganan produk yang tidak sesuai, PIC, serta system penangananya.
5. Customer Claim Handling
Point ini membahas system, PIC serta feedback dari customer terhadap  claim yang terjadi.
6. Warehouse Management
Point ini membahas mengenai System pengelolaan material, identifikasi material , sistem telusur datd penerimaan dan pengeluaran material, indikasi material after inspeksi, penanganan material yang tidak sesuai, serta delivery control.
7. Calibration
Point ini membahasi mengenai metode kalibrasi semua alat ukur yang terdapat ditempat calon supplier beserta ketepatan waktu kalibrasi ( on schedule ), standard yang dipakai, masa simpan dokument serta tingkat kompetensi PIC yang melakukan kalibrasi alat ukur tersebut.
8. Tool/Die Management
Point ini membahas mengenai system kontrol tool dan die baik dari sisi penggunaan maupun perawatan.

c. Pada saat hari H, biasanya Pimpinan assessor dipegang oleh bagian MCL dan dibantu oleh QA dari perusahan kita, sedangkan dari calon supplier biasanya dipimpin langsung oleh manager PPIC dan manager QA. Faktor penting pada saat pelaksanaan assessment ini adalah kita harus memberikan tekanan penting bahwa tujuan utama melakukan assessment adalah demi kebaikan bersama bukan untuk mencari kejelekan dari system yang terdapat di tempat calon supplier kita. tujuan dari assessment harus didasari oleh harapan akan perbaikan (improvement) yang dapat meningkatkan performance dari calon supplier.

d. Setiap pertanyaan dari beberapa point memiliki penilaian yang berbeda-beda didasari dari urutan penilaian sebagai berikut:
1. Point tertinggi (nilai 1) bila Dokument standard/system telah digunakan untuk pemenuhan semua persyaratan. diimplemetasikan dan terdapat evidence untuk melakukan cycle PDCA
2. Point ke dua (nilai 0,50) bila Dokument standard/system telah digunakan kecuali untuk beberapa temuan kecil terhadap system yang sifatnya tidak dijalankan secara kontinu dan tidak berpengaruh terhadap quality product
3. Point ke tiga (nilai 0.2) dokumnet standard/system tersedia tetapi persyaratan secara spesific tidak sesuai atau kurang cukup digunakan dalam operational
4. Point ke empat (nilai 0) bila standard yang relevan tidak digunakan terhadap operational taua proses tidak dilakukan ketika dibutuhkan
(NB: Urutan penilaian dapat berbeda-beda untuk setiap perusahaan tergantung system yang dibuatnya)

e. Dari hasil penilaian, kita harus memberikan informasi kecalon supplier berupa minimum score yang harus dicapai dan total penilaian diperusahaannya beserta acceptance Criteria dari hasil penilaian (acceptance criteri biasanya berupa : very good,good, fair, bad, worst)

f. Bila hasil penilaian dinyatakan berada diatas minimum score maka perusahaan tersebut dapat dinyatakan layak untuk menjadi supplier kita.

So…….MCL udah mulai berkurang pusingnya……dengan adanya supplier baru tersebut….tinggal mikirin…..bagaimana evaluasi performance suppliernya…..? hah…..pusing lagi…..mau ga mau ……minta bantuan QA lagi….hehehehehehe………si QA yang cape……..!

to be continued……..
next time : Evaluasi Supplier Performance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: